tes

Jumat, 28 Juli 2023

GEMAS MENDENGAR ALASANNYA (Salah Satu Praktik Baik Penerapan Budaya Positif di SD Negeri Lalowata)

Seperti biasa, saat mendapat giliran memfasilitasi apel pagi, saya selalu meminta seorang siswa memimpin dan merapikan barisan peserta. Setelahnya, memberikan arahan yang bersifat refleksi dan evaluasi perkembangan aktivitas sekolah dan aktivitas pembelajaran di kelas. Di tengah arahan, seorang siswa kelas satu tampak tiba-tiba duduk. Padahal telah sering disampaikan bahwa siswa tidak boleh duduk saat apel pagi dan menerima pengarahan.

Selang satu menit, saya mencoba memintanya untuk berdiri agar tidak menjadi perhatian siswa lainnya. Tak lupa menanyakan apakah dia merasa tidak enak badan atau sakit. Jawaban berupa gelengan kepala membuatku lega. Hanya saja, dari isyarat tidak apa-apa itu membuatku penasaran, mengapa dia harus duduk saat teman-temannya yang lain berdiri? Apalagi posisinya berada pada bagian paling depan.

Dari peristiwa ini, tiba-tiba terlintas di pikiran, mengapa tidak mencoba mengaktualisasikan Konsep Restitusi, salah satu materi yang ada pada modul 1.4 Program Guru Penggerak. Tentunya sebuah tantangan karena siswa tersebut masih duduk di kelas 1 dan belum genap sebulan bersekolah. Ditambah lagi, dia tidak sempat mendapat pengalaman belajar di taman kanak-kanak.

Usai apel pagi, mencoba menemui guru kelas 1. Tujuannya mencari informasi tentang siswa kelas 1 tersebut. Sebagai guru kelas 6, saya tidak memiliki banyak informasi tentang siswa yang ada di kelas 1. Pasalnya, mereka masih menjadi warga baru di SDN Lalowata. Dari guru kelas satu, saya mendapatkan informasi bahwa sang siswa merupakan anak yang paling menonojol di antara temannya dari segi kognitif dan keterampilan. Membuatku makin penasaran untuk melakukan praktik restitusi dalam rangka menanamkan disiplin positif pada dirinya. Menciptakan kondisi siswa tersebut untuk memperbaiki kesalahannya sehingga dia bisa kembali pada situasi umumnya siswa dengan karakter yang lebih kuat.

Berbekal izin dari guru kelas 1, saat sesi istirahat saya mencoba menghampirinya untuk membangun komunikasi. Benar saja, sang siswa memiliki kelebihan dibandinkan siswa yang lain. Di saat teman-temannya istrahat dan bermain, dia masih asyik menulis di dalam kelas. Sapaanku pun ditanggapinya dengan tenang, tetap menulis walau saya sudah duduk di sampingnya. Sebab ingin mengajaknya mengobrol, saya kemudian memintanya untuk berhenti menulis. Obrolan singkat pun tercipta. Tanpa disadarinya, saya mulai melakukan praktik restitusi. Menjalani tiga langkah segitiga restitusi: proses Menstabilkan Identitas, lalu Validasi Tindakan yang salah, kemudian Menanyakan Keyakinan. Tahapan ketiganya tidak harus berurut atau kaku dalam penerapannya.

Menariknya bahkan saya menilainya sebagai sesuatu yang menggemaskan yaitu saat menanyakan alasannya duduk saat apel pagi. Dia dengan polos menjawab bahwa saat apel pagi dirinya capek (lelah) karena semalaman belajar. Belajar A, B, C, katanya. Saya pun mencoba menstabilkan identitasnya dengan cara mendukung alasannya dengan mengatakan kepadanya bahwa sama dengan dirinya, saya pun akan beristirahat bila mengalami lelah. Namun, istirahat tersebut tentunya bisa kita kontrol berdasarkan kondisi dan situasinya. Setelah proses menstabilkan identitas, saya melanjutkan dengan proses menanyakan keyakinan (biasanya besifat peraturan) salah satunya tentang aturan saat apel pagi, harus dalam kondisi istrahat berdiri saat menerima pengarahan. Usai menanyakan keyakinan, saya melanjutkan dengan proses memvalidasi tindakan yang salah dengan mengajaknya membuat kesimpulan atas tindakannya. Memintanya menjawab, apakah tindakannya duduk saat apel pagi, sesuai dengan aturan dan ketetapan (keyakinan) sekolah atau tidak. Dia pun mengakui bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang sering guru dan siswa harapkan (aturan/keyakinan).

Dengan mengakui kesalahan, diharapkan lahir motivasi intrinsik dalam dirinya untuk tidak melakukan kekeliruan itu lagi. Dengan cara humanis ini, anak merasa nyaman dan aman dalam proses menciptakan karakter disiplin yang lebih baik dan kuat pada dirinya tanpa harus merasa takut dan terancam.

Penasaran dengan bagaiman situasinya saat itu, silakan tonton videonya di video restitusi berikut Video Gemas Mendengar Alasannya

Selain peletakan kamera dan tripod, dalam video ini bebas dari skenario dan teks untuk audionya. Termasuk saat melakukan refleksi, meminta tanggapan sang anak setelah proses restitusi.